
"Presiden mempertimbangan kenaikan BBM sebagai opsi terakhir, namun menurut saya jangan menggunakan opsi ini. Mengingat kondisi ekonomi rakyat yang masih sangat parah, terutama bagi mereka yang berpendapatan rendah, termasuk pegawai negeri dan karyawan perusahaan kecil," kata Agung kepada wartawan di kantornya, Gedung MPR-DPR Senayan, Jakarta, Senin (5/5/2008).
Menurut Agung, lebih baik pemerintah mencari opsi lain, seperti menjadwal ulang utang negara baik dalam maupun luar negeri. Sebab, kata dia, bunga dan penalti utang negara mencapai Rp155 triliun. "Sehingga dana ini bisa dialokasikan untuk rakyat," katanya.
Selain itu, kata dia, pemerintah harus menaikkan lifting minyak. Dengan demikian antara pengeluaran dan penerimaan negara bisa seimbang. "Jadi jangan cuma berhemat saja," tegasnya. (rhs)
0 komentar:
Posting Komentar